ichigo_wannabefighter

Seorang wanita biasa yang begitu kagum pada kemuliaan Khadijah ra, kelembutan Fatimah ra, dan kecerdasan Aisyah ra.
Memiliki visi menjadi "wanita sholihah berdasarkan Al-Qur'an dan As-sunnah"
Recent Tweets @ichigoichiyo
Interesting posts

Mencintai seseorang itu bisa dibentuk sesederhana mungkin
Diam-diam mempermudah segala urusannya
Diam-diam membantu kesulitannya
Diam-diam memperhatikannya
Diam-diam mencatat segenap hal-hal yang ia suka dan inginkan
Kemudian diam-diam pula mewujudkannya

Kau kira siapa yang paling mampu melakukannya?
: Allah ‘azza wa jalla

Betapa beruntungnya mereka yang dicintai-Nya diam-diam itu.

Quote pagi
Ada yang buat skripsi harus bagus, ada yang buat skripsi yang penting lulus. Intinya, skripsi yang bagus adalah skripsi yang bikin lulus.

Sam Maulana

Yang lagi ngerjain skripsi, ayo yang serius. Jangan kebanyakan buka medsos :p

Indonesia masa depan ialah pemudanya masa kini, dan bisa jadi tokoh-tokoh pemerintahan bangsa mendatang ialah ‪#‎AnakOSISKeren‬ di hari ini

Berbekal semangat di atas, kami ~ Indonesian Students Unite ~ akan mengadakan TwitTalk “Keren dan Serunya Jadi Ketua OSIS” dengan narasumber:

1. Ivan Ahda (@ivanahda)
Psikologi UI 2003
Direktur Eksekutif Forum Indonesia Muda
Head of Training and Consulting Rumah Perubahan
Eks Ketua OSIS SMAN 8 Jakarta

2. Dimas Surya Utama (@surya_dimas)
Teknologi Industri Pertanian IPB 2008
Pegiat Kegiatan Sosial Forum Indonesia Muda
Eks Ketua OSIS SMAN 5 Bekasi

3. Mogi Bian Dharmawan (@ohmogi)
Agronomi dan Holtikultura IPB 2012
co-founder Sahabat Lentera Indonesia
Eks Ketua OSIS SMAN 14 Jakarta

Minggu, 5 Oktober 2014, mulai jam 8 malam

Pastikan adik, kerabat, tetangga kita yg masih bersekolah mendapatkan manfaat dari kultwit ini karena menentukan arah bangsa bisa dimulai dari bangku sekolah

Sampai jumpa nanti malam 
Indonesian Students Unite 2014
@IDStudentsUnite

choqi-isyraqi:

at least i can share with Ayu – View on Path.

Do, what you can do to help others, at least, spread this message and pray for them

Kalau setiap orang hanya akan menuai apa yang ditanam, apa yang akan akan dituai oleh orang yang menanam perasaan?

***

Hati kita punya banyak ruang. Dan dari sekian banyak ruang itu, selalu tersedia ruang benci diantaranya. Begitu juga dengan hatiku. Yang aku tak mengerti, kenapa kamu harus memasukinya? 

Ada sejumput rindu yang menjemput. Mengajak hatiku berdamai untuk menerima apa yang telah terjadi. Kembali ke masa lalu, merasakan apa yang pernah kita rasa dalam kebersamaan ini. Menyusuri segala hal yang membuat kita saling merasa nyaman untuk saling mendekat dan mengikat. Tapi kenyataan lebih kuat dari kenangan masa lalu. Dan kabar buruknya, hatiku masih tetap menolak untuk berdamai. Atau masalahnya bukan tentang masa lalu atau sekarang, toh banyak juga yang terjebak dengan masa lalunya, hidup dalam harapan agar kondisinya seperti masa lalu, padahal waktu sudah berdetak berjuta detik, dan kita sudah sama-sama mengalami banyak perubahan. 

Apa memang begitu hukumnya, segala yang menyakitkan akan bertahan lebih lama walaupun kadarnya hanya sedikit. Sedangkan segala yang membahagiakan akan cepat terlupakan walaupun kadarnya melimpah. Barangkali itulah salah satu penyebab, tetua kita yang bijak bestari menyimpulkan peribahasa yang serasa tak adil, tapi memang begitu adanya: “Nila setitik bisa merusak susu sebelangga”

Entahlah, yang pasti sekarang kamu sedang menempati ruang benci di hatiku. Dan aku belum tahu caranya untuk mengeluarkanmu dari sana. Apa aku usir saja kamu secara paksa, agar kamu tidak mengganggu hidupku. Agar kamu tidak mencemari ruang yang lainnya. Tapi bukankah itu percuma saja, karena walaupun kamu tak ada disana, ruang itu akan tetap ada. Hanya siapa yang mendiaminya yang berbeda. Kalau bukan kamu, tentu saja ada orang lain.

Sekarangpun kamu bukan satu-satunya penghuni. Masih banyak yang lainnya. Hanya saja, kamu yang paling mendominasi. Apa aku hancurkan saja ruang itu, agar ruang itu tak ada dalam hatiku? Tapi bagaimana bisa, bukankah hati adalah sesuatu yang diberikan Tuhan satu paket dengan ruang-ruangnya. Sudah begitu adanya. Mana bisa melanggar sunatullah-Nya. 

"Aku tak menanam rasa benci itu. Kamu yang membuatnya tumbuh di ruang benciku. Kamu yang menyuburkannya dengan tingkahmu yang tak aku suka, dengan perilakumu yang menyakiti. Dan aku yang harus menanggung deritanya, yang merasakan ketidak-tenangan-nya." Itulah apa yang aku pikirkan. Dulu.

Lalu, kedewasaan menamparku, membangunkanku dari kekonyolan yang tak aku sadari. Hati itu lahanku, milikku. Ruangan yang ada di dalamnya juga sepenuhnya kuasaku. Apa yang harus ditanam dan tumbuh disana juga pilihanku. Jadi kalau kamu menawarkan bibit kebencian, harusnya aku menolaknya. Tidak menerimanya begitu saja. Jikapun tak sengaja bibit itu tersebar di ruang benciku, kemudian tumbuh subur, harusnya aku bisa menatanya sedemikian hingga, agar ia tak tumbuh merajalela. Agar ia tak menjadi parasit bagi yang lainnya. 

Dan parahnya aku salah besar, ternyata ruangan di hatiku bukan diperuntukkan untuk orang lain. Bukan juga untukmu. Ia diperuntukan bagi sifat-sifat yang dimiliki orang lain. Termasuk sifatmu. Sifatnya, bukan orangnya. Setiap orang memiliki sifat baik dan sifat buruk. Kalau begitu, harusnya kamu tidak hanya menempati ruang benci di hatiku karena keburukanmu, tapi juga ruang sayang di hatiku karena kebaikanmu. Dan harusnya aku yang lebih banyak mengajakmu untuk berada di ruang sayang hatiku, bukan malah membiarkanmu berkeliaran di ruang bencinya. Maaf.

***

Apa yang dituai dari orang yang menanam perasaan? Jawabannya adalah perasaan yang sama. 

Menata Hati, Nazrul Anwar

Video untuk Milad Rona…

Video yang terlambat… Yang paling penting adalah, doa-doa baik untukmu diijabah Allah… Love you, dear :)

Everything good start from the goodness… Enjoy wearing something that can representative who you are…

Kunjungi webclothing line kami di www.yesiammuslim.com .. kamu bisa melihat-lihat desain kaos distro muslim kami juga dapatkan manfaat membaca artikel2 ringan dan ‘ngena’ di situ…

Pemesanan kaos bisa langsung di website atau hubungi saya :)

Resume Kajian Tauhid
Bersama Aa Gym
di Masjid Istiqlal, 14 September 2014


Kalian pernah stress? Kenapa kalian stress? Hayooo…

Jawabannya adalah:
Karena kalian kebanyakan mikir, lupa/kurang dzikir.
Ibarat kata, kalian lagi tersasar, ndak tahu arah kayak butiran debu yang tercecer di jalanan. Lalu kalian mikiiiiirrr keras ke mana jalan keluarnya. Itu bodoh namanya. Udah jelas kalian ga tahu jalan. Harusnya nanya!
Nah.. Zikir itu, ibarat nanya ke Allah, sang penunjuk jalan yang tak harap pamrih.

——————————
sekarang bahas rezeki yaa ..
rezeki itu datangnya dari mana? (Allah)
kemudian, yang tahu jalan menuju rezeki itu siapa? (Allah)
kalau misalnya pengen rezeki nih, tapi ga inget sama Allah, itu aneh sekali rasanya.
knapa?
lah kan semuanya Allah yang punya, yang tahu jalannya juga Allah, maka klo inget rezeki ingetnya sama Allah, tanya sama Allah kalau ga tahu jalannya.
da kita mah apah atuh punyanya?!

sama juga ky jodoh.
kalau inget jodoh, ingetnya sama Allah ..
karna semua itu kepunyaannya Allah ..

——————————
kalau lagi ada masalah nih …
Allah itu tahu kalau kita bodoh, makanya Allah ga nyuruh kita buat nyelesein masalah sendiri, tapi Allah nyuruh untuk kembali kepadaNya.
kembalikan segala urusan yg ga bisa kamu selesaikan itu ke Allah.
sebenernya masalah yg tengah kita hadapi ini kecil bagi Allah, tinggal kitanya aja mau pasrahin ke Allah apa ngga ?!
ikutin ajaa apa kata Allah, nurut sama Allah yg penting Allah ridho.

bahas jodoh dikit yaa ..
kalau misalnya Allah sudah menjodohkan seseorang, itu ga ada yg bisa ngerubah lagi.
kalau bukan jodohnya, ya terima aja yg penting Allah ridho.
nanti juga akan ada jodohnya.
tenang aja semua itu ada waktunya ..
sama halnya ky saat pagi merindukan senja, tenang aja, senja juga akan datang kalau sudah waktunya.

contoh lain misalnya, kita pergi ke dokter, trus pas ditungguin dokternya malah ga dateng, yaudah jangan bilang “coba tadi ga jadi dateng, saya mending blablabla.”
inilah takdir yg sekarang, terima aja kenyataan yg penting Allah ridho.
terima atau ga terima kenyataan, hal tersebut tetap terjadi, ga bisa dirubah lagi.

——————————
Lalu, zikir yg seperti apa?
Zikir yg khusnuzan (berprasangka baik). Ketika sedang diuji, tetaplah berprasangka baik sama Allah. Syukuri apa yang sudah dimiliki/ada, jangan sibuk mengeluh apa yang tidak dimiliki/tidak ada.
Contoh kasus:
Ada ibu yg sudah menikah 6 tahun, belum diberikan anak, lalu terkena tumor, sehingga rahimnya harus diangkat. Dia mengadu sama aa. Lalu aa tanya,”yang diambil rahimnya ya bu? Jantung ibu diambil ga?”
“Alhamdulillah gak a”
“Paru-paru sehat bu?”
“Sehat a”
“Kalau ginjal?”
“Alhamdulillah masih baik a”
“Otak gimana bu?”
“Masih normal a”
“Alhamdulillah… Semua masih sehat. Jadi tadi yg diambil apa bu?”
“CUMA rahim a.. Alhamdulillaah”

yakin aja dan terus berprasangka baik kepada Allah, Allah itu pasti baik, ga mungkin jahat !

kalau kita menerima kejahatan atau musibah, sesungguhnya kita sendirilah yg mengundang kejahatan tersebut dan jangan salahkan orang lain.
seperti doa yg diajarkan oleh Nabi, “rabbana zhalamnaa ‘
anfuusanaa wa in lamtaghfirlanaa wa tarhamnaa lanakunannaa minal khaasiriin”

dan sebagai pengingat, Surat Al Israa ayat 7 yg artinya “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri. Dan jika kamu bebrbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”

nah, jadi bisa tau kan, sesungguhnya klo kita berbuat baik yaa untuk diri kita sendiri.
begitu pula sebaliknya, klo kita berbuat jahat, nantinya kejahatan itu akan balik ke kita sendiri.

——————————
‘afwan minkum klo ada kesalahan, sesungguhnya yg benar itu datangnya dari Allah dan yg salah datangnya dari yg me-resume materi ini.
semoga bermanfaat 

ditulis oleh :
@shantiinoo
ngutip sebagian :
@metamorfillah

kitabisa:

Please guys, help us spread the news!! 

#BadarDorongBus 

Tingal 25 hari lagi kampanye patungan Bus Donor Darah PALANG MERAH INDONESIA akan berakhir, saat ini sudah terkumpul 108 juta sedangkan targetnya 525 juta.

Yang belum donasi yuk ikutan! Donasinya gampang banget tinggal klik:http://bit.ly/busdondar dan klik tombol donasi

Project Leader #Busdondar, Badar, akan dorong bus dari HI-Monas kalau kampanye ini berhasil! Yuk DUKUNG!

(via rifkihidayat)

Great people are NOT made by great words or promises. Great people are made by daring actions to do what is always right.
Is that right?

The most wanted film that I want to see…

Haji yang ga sekedar haji… karena ada nilai dalam perjalananya…

Ya, when the value of a journey is our destination

Yaa Rabb, sampaikanlah aku menuju Kabbah dengan caraMu yang terindah… 

Nih, buat yang tertarik sama isu energi.. boleh join di grup FC3: Eneling (Energi dan Lingkungan) Forum Indonesia Muda. Silakan daftar di cp yg tersedia via whatsapp yaaa

Anak terakhir atau familiar disebut bungsu. Dengan status tersebut dikeluarga, memang akan kau temui sosok manja karena kaya limpahan kasih sayang. Kehadirannya akan selalu dirindukan. Sosok anak kecil yang tak pernah dewasa, padahal selalu mati-matian berusaha mematahkan asumsi tersebut.

Bungsu :’)

(via birulangit23)

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.

Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak. Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, ”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi. Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. ”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah?”

”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. ”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?” Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. ”Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, ”Menikahkan puteri kalian.”

”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya. ”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”

”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”

”Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis.

”Ya. Untuk Julaibib.”

”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. ”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”

”Dengan Julaibib?”, isterinya berseru. ”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran..”

Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun. ”Siapakah yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.” Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini;

Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al Ahzab [33]: 36)

Dan Sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, ”Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Doa yang indah.

Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib. Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala. Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.

Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya. Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu. Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga.”Ya Allah”, lirih Sang Nabi, ”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak. Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.

Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita. Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat. Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaatiNya.

Maka benarlah doa Sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya. Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.

Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya. Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak Ya Rasulallah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasullallah!” Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.

Para shahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.

Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi. Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia. Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib. Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Ya. Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu?

sepenuh cinta,
Salim A. Fillah

| Bisakah berharap dicintai Rasul seperti beliau mencintai para sahabatnya? :’(

Ah, banyak yang masih harus dibenahi

Ah, banyak yang masih harus dibenahi